
Twitter, situs penyedia microblogging ini menjadi bahan obrolan dengan suamiku tadi malam. Dia menceritakan tentang James Buck, graduate student untuk jurnalisme dari University of California,Berkeley. Buck bersama penterjemahnya, Mohammad Mare, ditangkap karena membuat foto demo anti pemerintah di Mesir.
Dalam perjalanan menuju pos polisi, Buck meng-update statusnya di twitter dengan menuliskan “arrested”. Status Buck kemudian dibaca oleh 48 orang “pengikut twitter”nya yang kemudian mengirim pesan ke University of California Berkeley, ke US Embassy di Cairo dan ke kantor-kantor media atas nama Buck. Buck juga terus memberikan kondisi terakhir kepada pengikutnya selama ditahan. Keesokan harinya Buck mengubah statusnya lagi menjadi "alive and ok. still in jail". Pada hari itu juga ia dibebaskan dari penjara Mahalla, setelah koleganya menyewa pengacara.

Demikian hebatkah layanan twitter ini?
Bahkan sampai-sampai kisah James Buck di atas menimbulkan sebuah pepatah baru "Twitter, don't leave home without it"
Bagi seorang junalis, Twitter dapat dimanfaatkan pula untuk:
Artikel lain yang aku baca menyebutkan bahwa American Red Cross mempergunakan twitter sebagai komunikasi tiap menit untuk memberitakan lokasi, statistic dan tempat dimana terjadinya bencana.
Pada bulan Januari 2009, US Airways FL 1549 yang baru saja take off dari lapangan udara La Guardia di New York mengalami kecelakaan karena burung2 yang masuk ke mesinnya dan harus "ditched" di sungai Hudson. Janis Krums, penumpang dari salah satu fery yang akan menolong, mengambil photo pesawat tersebut, yang sedang mengevakuasi penumpang keluar pesawat, kemudian mengirimkannya ke twitpic sebelum wartawan tradisional sampai ditempat kejadian.
Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa ada saat-saat tertentu di mana social media dapat mengisi kekosongan yang tidak dapat disentuh oleh media konvensional.
Lantas, dengan semakin besarnya peran social media dalam kehidupan masyarakat modern saat ini, bagaimana reaksi jurnalis "konvensional" dan organisasi-organisasi media, baik yang besar maupun yang kecil terhadap fenomena ini?
Seorang Jurnalis Australia, Julie Posetti mengulas mengenai fenomena ini dalam Media Shift. Julie melakukan wawancara dengan wartawan-wartawan dari beberapa media massa di Australia dan negara-negara lain dapat memberikan masukan tentang bagaimana media massa dapat menyikapi social media.
Baca Selengkapnya..
Dalam perjalanan menuju pos polisi, Buck meng-update statusnya di twitter dengan menuliskan “arrested”. Status Buck kemudian dibaca oleh 48 orang “pengikut twitter”nya yang kemudian mengirim pesan ke University of California Berkeley, ke US Embassy di Cairo dan ke kantor-kantor media atas nama Buck. Buck juga terus memberikan kondisi terakhir kepada pengikutnya selama ditahan. Keesokan harinya Buck mengubah statusnya lagi menjadi "alive and ok. still in jail". Pada hari itu juga ia dibebaskan dari penjara Mahalla, setelah koleganya menyewa pengacara.
Demikian hebatkah layanan twitter ini?
Bahkan sampai-sampai kisah James Buck di atas menimbulkan sebuah pepatah baru "Twitter, don't leave home without it"
Bagi seorang junalis, Twitter dapat dimanfaatkan pula untuk:
- Mendokumentasikan ide-ide tulisan yang tadinya terpisah-terpisah agar nantinya dikompilasikan dan dijadikan satu artikel yang panjang. Lumayan daripada menebang-nebang pohon untuk menghasilkan notes.
- Interview atau feedback: tweeting bisa menghasilkan banyak replies dari pengikut yang akhirnya dapat dimasukkan ke surat pembaca. Ada juga wartawan yang melempar pertanyaan ke publik dan responsnya dimasukkan menjadi artikel. Semacam online Focus Group Discussions.
- Dan yang penting adalah promosi, baik untuk publikasinya sendiri dan bagi wartawan yang twittering ya promosi wartawan itu sendiri.
Pada bulan Januari 2009, US Airways FL 1549 yang baru saja take off dari lapangan udara La Guardia di New York mengalami kecelakaan karena burung2 yang masuk ke mesinnya dan harus "ditched" di sungai Hudson. Janis Krums, penumpang dari salah satu fery yang akan menolong, mengambil photo pesawat tersebut, yang sedang mengevakuasi penumpang keluar pesawat, kemudian mengirimkannya ke twitpic sebelum wartawan tradisional sampai ditempat kejadian.
Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa ada saat-saat tertentu di mana social media dapat mengisi kekosongan yang tidak dapat disentuh oleh media konvensional.Lantas, dengan semakin besarnya peran social media dalam kehidupan masyarakat modern saat ini, bagaimana reaksi jurnalis "konvensional" dan organisasi-organisasi media, baik yang besar maupun yang kecil terhadap fenomena ini?
Seorang Jurnalis Australia, Julie Posetti mengulas mengenai fenomena ini dalam Media Shift. Julie melakukan wawancara dengan wartawan-wartawan dari beberapa media massa di Australia dan negara-negara lain dapat memberikan masukan tentang bagaimana media massa dapat menyikapi social media.
....in Australia, journo -tweeting is largely unregulated by media outlets. None of the 25 Australian journalists I interviewed for this study (from Fairfax, News Ltd, ABC, ACP, Sky News and a range of smaller outlets) was aware of such a policy in their workspace. According to some of the interviewees, management ignorance could account for the absence of such policies. When asked why he thought his Australian employer didn’t have a policy like the WSJ, one journalist responded, “They just don’t get it.”Bagaimana dengan media massa di Indonesia? We'll see.







