Twitter, Don't Leave Home Without It

Posted On 7/29/2009 09:01:00 PM by Tantry Andini | 0 komentar

Twitter, situs penyedia microblogging ini menjadi bahan obrolan dengan suamiku tadi malam. Dia menceritakan tentang James Buck, graduate student untuk jurnalisme dari University of California,Berkeley. Buck bersama penterjemahnya, Mohammad Mare, ditangkap karena membuat foto demo anti pemerintah di Mesir.

Dalam perjalanan menuju pos polisi, Buck meng-update statusnya di twitter dengan menuliskan “arrested”. Status Buck kemudian dibaca oleh 48 orang “pengikut twitter”nya yang kemudian mengirim pesan ke University of California Berkeley, ke US Embassy di Cairo dan ke kantor-kantor media atas nama Buck. Buck juga terus memberikan kondisi terakhir kepada pengikutnya selama ditahan. Keesokan harinya Buck mengubah statusnya lagi menjadi "alive and ok. still in jail". Pada hari itu juga ia dibebaskan dari penjara Mahalla, setelah koleganya menyewa pengacara.


Demikian hebatkah layanan twitter ini?
Bahkan sampai-sampai kisah James Buck di atas menimbulkan sebuah pepatah baru "Twitter, don't leave home without it"

Bagi seorang junalis, Twitter dapat dimanfaatkan pula untuk:
  • Mendokumentasikan ide-ide tulisan yang tadinya terpisah-terpisah agar nantinya dikompilasikan dan dijadikan satu artikel yang panjang. Lumayan daripada menebang-nebang pohon untuk menghasilkan notes.
  • Interview atau feedback: tweeting bisa menghasilkan banyak replies dari pengikut yang akhirnya dapat dimasukkan ke surat pembaca. Ada juga wartawan yang melempar pertanyaan ke publik dan responsnya dimasukkan menjadi artikel. Semacam online Focus Group Discussions.
  • Dan yang penting adalah promosi, baik untuk publikasinya sendiri dan bagi wartawan yang twittering ya promosi wartawan itu sendiri.
Artikel lain yang aku baca menyebutkan bahwa American Red Cross mempergunakan twitter sebagai komunikasi tiap menit untuk memberitakan lokasi, statistic dan tempat dimana terjadinya bencana.

Pada bulan Januari 2009, US Airways FL 1549 yang baru saja take off dari lapangan udara La Guardia di New York mengalami kecelakaan karena burung2 yang masuk ke mesinnya dan harus "ditched" di sungai Hudson. Janis Krums, penumpang dari salah satu fery yang akan menolong, mengambil photo pesawat tersebut, yang sedang mengevakuasi penumpang keluar pesawat, kemudian mengirimkannya ke twitpic sebelum wartawan tradisional sampai ditempat kejadian.

Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa ada saat-saat tertentu di mana social media dapat mengisi kekosongan yang tidak dapat disentuh oleh media konvensional.

Lantas, dengan semakin besarnya peran social media dalam kehidupan masyarakat modern saat ini, bagaimana reaksi jurnalis "konvensional" dan organisasi-organisasi media, baik yang besar maupun yang kecil terhadap fenomena ini?

Seorang Jurnalis Australia, Julie Posetti mengulas mengenai fenomena ini dalam Media Shift. Julie melakukan wawancara dengan wartawan-wartawan dari beberapa media massa di Australia dan negara-negara lain dapat memberikan masukan tentang bagaimana media massa dapat menyikapi social media.
....in Australia, journo -tweeting is largely unregulated by media outlets. None of the 25 Australian journalists I interviewed for this study (from Fairfax, News Ltd, ABC, ACP, Sky News and a range of smaller outlets) was aware of such a policy in their workspace. According to some of the interviewees, management ignorance could account for the absence of such policies. When asked why he thought his Australian employer didn’t have a policy like the WSJ, one journalist responded, “They just don’t get it.”
Bagaimana dengan media massa di Indonesia? We'll see.
Baca Selengkapnya..
|

Televisi Digital Sudah di Depan Mata?

Posted On 7/09/2009 07:15:00 PM by Tantry Andini | 0 komentar

Sebuah berita di liputan6.com menyebutkan bahwa era televisi digital di Indonesia sudah di depan mata. Beragam sarana dan prasarana penunjang kehadiran teknologi ini sudah mulai dipersiapkan, termasuk unsur content-nya.

Satu di antara yang bakal hadir segera adalah TV yang sudah langsung ter-inject dengan Set Top Box program. Sedianya, pesawat TV LCD (Liquid-crystal display televisions) yang sudah dilengkapi teknologi tersebut akan diluncurkan untuk pertama kalinya di Indonesia pada Selasa (9 Juni 2009) di Jakarta. Penyelenggaraan era baru ini adalah hasil kerja sama antara TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik dan PT LG Electronics Indonesia.

Berdasarkan artikel di wikipedia, teknologi TV digital ini sudah mulai dikembangkan di pertengahan tahun 90 an dan diujicobakan pada tahun 2000. Melihat rentang waktu sejak mulai dikembangkan sampai sekarang, menimbulkan pertanyaan mengapa teknologi TV digital ini terkesan sulit untuk diaplikasikan di Indonesia.

Beberapa permasalahan yang mungkin menjadi penyebab sulitnya penerapan teknologi tersebut antara lain biaya yang diperlukan untuk membangun sebuah sistem baru sudah tentu tidak sedikit. Faktor biaya ini bisa jadi merupakan faktor utama lambatnya penerapan teknologi ini. Andaipun ada investor yang bersedia untuk menanamkan modalnya pada teknologi TV digital, mayoritas masyarakat Indonesia bisa jadi belum siap dengan kehadiran teknologi baru, meskipun teknologi baru itu menjanjikan lebih banyak kemudahan.

Mudah-mudahan apa yang ditulis liputan6.com bahwa era TV digital sudah di depan mata benar-benar terwujud. Dan mengingat karakter masyarakat Indonesia yang sangat majemuk dan dengan tingkat pendidikan yang sangat beragam, perlu adanya tuntunan kepada masyarakat bagaimana memilih program yang benar. Untuk itu, diperlukan broadcaster yang bertanggung jawab dan adanya lembaga pengawas konten yang berwibawa.
Baca Selengkapnya..
|

Implikasi Hadirnya Teknologi Satelit

Posted On 7/09/2009 06:57:00 PM by Tantry Andini | 0 komentar

Perkembangan teknologi komunikasi yang semakin pesat telah menghadirkan berbagai macam alat maupun aplikasi yang dapat menunjang kehidupan komunikasi manusia sehari.hari. Yang lebih hebatnya lagi, banyak diantara alat-alat tersebut bisa menjadi basic untuk perkembangan teknologi baru yang lain. Misalnya saja satelit, salah satu dari teknologi komunikasi yang kini berkembang dan membantu perkembangan komunikasi masyarakat dunia. Teknologi ini adalah teknologi pertama yang telah membuat jarak yang jauh dan jangkauan daerah yang luas menjadi tidak berarti. Satelit telah membuat jangkauan komunikasi manusia menjadi luas.

Jangkauan satelit yang luas membuat arus komunikasi manusia antara satu belahan ke belahan dunia lain lebih lancar. Hasil dari penggunaan satelit, yang paling dirasakan sekarang yaitu bagaimana satelit telah membuat rakyat di Indonesia dan di belahan dunia lain bisa medapatkan siaran berita yang sama dalam jam yang sama, padahal tempat menyiarkannya berbeda.

Satelit telah menjadi salah satu cara manusia untuk dapat mengakses informasi. Satelit dulu mungkin hanya terbatas pada beberapa fungsi tertentu saja, misalnya untuk kebutuhan geogarfi, sebelum digunakan untuk hal yang lebih komersil seperti sekarang ini. Kini satelit telah menjadi bagian dasar dari berbagai teknologi canggih yang kita kenal sekarang. Satelit merupakan salah satu komponen penting yang membuat adanya teknologi tv berbayar atau pay-tv.

Namun, teknologi yang berkembang dimanapun, selalu membawa implikasi yang kurang baik. Dalam kasus satelit, implikasi dari pemakaian teknologi ini adalah mahalnya harga komponen pembentuknya. Selain itu, berkembangnya teknologi yang baru tidak selalu berarti teknologi yang lebih konvensional lantas ditinggalkan. Sebenarnya antara kedua hal ini saling melengkapi, teknologi baru tidak akan bisa dikembangkan tanpa adanya teknologi yang lama. Dan yang terpenting, diantara sederatan teknologi baru yang kini sedang berkembang, banyak diantaranya yang saling melengkapi sistem satu sama lain.
Baca Selengkapnya..
|